Kamis, 21 Oktober 2010

Sains dan Tuhan

Dr. Stephen Hawking (Inggris) dan fisikawan AS, Leonard Mlodinow menulis buku berjudul "The Grand Design" yang lalu menuai kontroversial. Inti dari buku itu, Hawking -dalam acara talkshow "Larry King Live" di stasiun CNN- mengatakan, "Tuhan mungkin ada, tapi ilmu pengetahuan bisa menjelaskan alam semesta tanpa peran Sang Maha Pencipta".

Masih menurut Hawking, ilmu agama tidak diperlukan untuk menjelaskan penciptaan alam semesta. Dalil pengetahuanlah yang bisa menjelaskan terjadi jagat raya, tanpa campur tangan Tuhan. Demikian penjelasan Hawking saat peluncuran buku barunya itu, 9 September 2010 lalu.

Penemu "Teori-M" itu berargumen, bahwa, berdasarkan keberadaan gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta dengan sendirinya dari antah berantah. "Penciptaan yang spontan adalah alasan mengapa alam semesta dan kemanusiaan terjadi". Gravitasi dan teori kuantum menyebabkan jagat raya tercipta secara spontan.

"Ilmu pengetahuan kini kian mampu menjawab pertanyaan yang dulu masih dalam ranah agama. Perhitungan ilmiah kini telah komplit. Teologi tidak diperlukan lagi", kata ilmuan berusia 68 tahun itu. Penemu "Teori Lubang" tersebut menambahkan, "Jika alam semesta bisa tercipta dengan sendirinya, maka terdapat alam semesta-alam semesta lain yang juga tercipta".

Mencermati konklusi atau kesimpulan dari hasil riset Hawking tersebut, maka pasti umat beragama akan kebakaran jenggot, baik umat Islam maupun non-muslim yang menyakini bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, tidak tercipta dengan sendirinya. Berdebat dengan Hawking pun, paling-paling kebanyakan dari kita -terutama yang bukan ilmuan eksakta- hanya bisa menyampaikan dalil-dalil naqli yang bersumber dari kitab suci. Lalu, dari dalil-dalil itu kita temukan justifikasi untuk meng-counter balik ucapan Stephen Hawking dan rekannya, Leonard Mlodinow.

Lebih dari itu, melalui ilmu logika atau mantiq (baca: dalil aqli), kita pun mungkin saja menemukan hal-hal yang bisa melemahkan pendapatnya itu. Apalagi, kebanyakan dari kita memang handal dalam berdebat. Bisa saja dengan penuh emosi, kita balik bertanya, "Bila sains dan ilmu pengetahuan modern dapat membuat ciptaan, maka tolong buatlah seekor nyamuk saja!". Lalu, para sainstis akan menunjukkan robot buatan mereka yang bisa terbang dan bahkan menebarkan senjata biologi yang dampaknya lebih parah dari sengatan nyamuk demam berdarah.

Kemudian, kita pun akan balik berkata, "Robot buatanmu itu sama sekali tidak sama dengan nyamuk. Bentuk fisiknya besar, tak bernyawa, biaya pembuatannya pun mahal, dan sebagainya". Boleh jadi, setelah mendengar kata-kata, para ilmuan terdiam dan mengaku kalah. Tapi tidak dalam hal ranah pengembangan ilmu pengetahuan.

Tulisan ini bukan ingin menampilkan sisi perdebatan antara sains dan agama. Atau, tidak juga ingin mengunggulkan kemajuan temuan teknologi dan sains, serta ancamannya terhadap agama. Namun, hanya sebagai ekspresi untuk penyadaran diri, betapa para ilmuan Barat ternyata masih terus menggali informasi alam semesta. Dengan aktivitas riset tak kenal henti, dengan "jihad" yang tak kenal kata menyerah itu, mereka terus menghasilkan produk-produk modern yang mencengangkan penduduk bumi. Sementara kita lebih asyik bernostalgia dengan kemajuan teknologi muslim abad pertengahan dan mengenangnya sebagai khazanah intelektual belaka.

Maka, sudah seharusnya ilmu sains dan teknologi menjadi salah agenda umat Islam untuk terus dikembangkan. Bila perlu, ada fatwa tentang kewajiban memahami ilmu alam semesta, bukan hanya terbatas pada ilmu-ilmu sosial seperti pendidikan, psikologi, sastra dan sebagainya. Pengembangan pendidikan harus diperkuat dengan berbagai eksperimen untuk menghasilkan teknologi mutakhir yang membanggakan.

Jadi, pernyataan Stephen Hawkin dan Leonard Mlodinow yang kontroversial itu, sebaiknya kita jawab juga dengan temuan teknologi yang berpijak pada kebenaran agama. Tidak cukup dengan dalil-dalil belaka, tapi dengan teriakan takbir atau ledakan bom. Hal ini sama sekali bukan cara kaum beragama, tapi gaya-gaya koboi yang sudah kadaluarsa.

Memang benar, bila Nabi Muhammad saw bersabda, "man izdada ilman, wa lam yazdaad hudan, lam yazdad minallahi illa bu'dan". Artinya, siapa yang ipteknya bertambah, tapi tetap tidak memperoleh hidayah, maka sebenarnya ia hanya akan bertambah jauh dari Allah.

Itu artinya, sains dan teknologi umat Islam yang telah lama "tertidur" harus segera bangkit. Produk teknologi dan pengetahuan alam semesta dari kalangan kita, sebenarnya sedang ditunggu-tunggu. Yah, hanya dengan menampilkan hasil eksperimen dan berbagai riset modern di bidang ilmu eksakta yang berjiwa agamis saja yang akan memuaskan para ilmuan Barat yang selama ini terus mendeskreditkan umat Islam. Yakni, semua temuan dan teori yang akan menggiring Stephen Hawkin dan kawan-kawannya bermuara pada "Rabbana ma khalaqta hadza baatila". Sebuah pengakuan akan eksistensi Tuhan setelah mereka menyaksikan dalil nyata dan kebenaran secara ilmiah.

Di sinilah tantangan umat Islam di masa depan. Bila umat ini masih dinina bobokan oleh nostalgia, apalagi diributkan tentang dualisme antara duniawi dan ukhrawi, maka selain kita akan menjadi terbelakang dan terus ketinggalan, kita pun sama artinya diam tidak bergerak, tidak berdakwah dan tidak berkemauan menyadarkan mereka untuk mengimani eksistensi Allah. Sebab, kita sendiri belum berbuat apapun untuk alam semesta dan umat manusia.

Selengkapnya. >

Rabu, 20 Oktober 2010

Para Nabi Juga Manusia

Allâh berfirman :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلهُكُمْ إِلهٌ وَاحِدٌ، فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ اللهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَ لاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya :

Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku "Bahwa sesungguhnya Ilâh (Sesembahan) kalian itu adalah Ilâh Yang Esa". Maka barang-siapa yang berharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan 'amal yang shalih, dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam ber'ibadah kepada Rabb-nya". (Surah Al-Kahfi (18) : 110)

Ibnu Fâris mengatakan bahwa makna kata "Basyar" ( بَشَرٌ) dari segi bahasa (lughat) :

ظُهُوْرُ الشَّيْءِ مَعَ حُسْنٍ وَ جَمَلٍ

Artinya : "Bagian luar (lahiriyah) sesuatu beserta kebaikan dan keindahannya".

Selanjutnya Ibnu Fâris mengatakan :

فَالْبَشَرَةُ ظَاهِرُ جِلْدِ اْلإِنْسَانِ ، وَ سُمِّيَ الْبَشَرُ بَشَرًا لِظُهُوْرِهِمْ

Artinya : Kalau Basyarah – dengan penambahan ta’ marbuthah – artinya :"kulit -- bagian --luar manusia"; dan manusia disebut "Basyar" karena penampilan luar (lahiriyah) mereka". (Lihat Nadhratan-Na'îm juz III hal. 780)

Jadi, ayat di atas menegaskan bahwa para rasul secara lahiriyah tidak berbeda dengan manusia lain pada umumnya. Namun demikian, mereka (para rasul) adalah manusia pilihan yang dipilih Allâh berdasarkan hak-Nya untuk menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia, yaitu agar manusia ber'ibadah hanya kepada Allâh, sebagaimana firman-Nya :

وَ لَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوْا اللهَ وَ اجْتَنِبُوْا الطَّاغُوْتَ

Artinya :

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : "Ber'ibadahlah kepada Allâh (saja), dan jauhilah Thâghût".(Surah An-Nahl (16) : 36)

Al-Imâm Al-Qurthubî telah memberikan keterangan yang sangat jelas dalam masalah ini, beliau berkata :

فَإِنَّ اللهَ قَدْ أَجْرَى سُنَّتَهُ وَأَنْفَذَ كَلِمَتَهُ بِأَنَّ أَحْكَامَهُ لاَ تُعْلَمُ إِلاَّ بِوَاسِطَةِ رُسُلِهِ السَّفَرَاءِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ الْمُبَيِّنِِيْنَ لِشَرَائِعِهِ وَأَحْكَامِهِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: اللهُ يَصْطَفِى مِنَ الْمَلاَئِكَةِ رُسُلاً وَمِنَ النَّاسِ

Artinya :

Sesungguhnya Allâh telah menjalankan aturan (sunnah)-Nya dan memberlakukan keputusan-Nya, bahwa hukum-hukum-Nya tidak bisa diketahui kecuali dengan perantaraan para rasul-Nya, -- yang menjadi -- duta-duta di antara-Nya dan di antara makhluq-Nya, merekalah yang menjelaskan hukum-hukum-Nya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya) : "Allâh memilih utusan dari para malaikat dan -- juga -- dari manusia". (SurahAl-Hajj (22) : 75).

Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa Allâh yang berhak menentukan pilihan atau memilih siapa-saja yang dikehendaki-Nya untuk menjadi utusan atau Rasul. Selanjutnya Al-Imâm Al-Qurthubî berkata lagi :

وَ قَالَ )اللهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالاَتَهُ( وَ أَمَرَ بِطَاعَتِهِمْ فِي كُلِّ مَا جَاءُوْ بِهِ، وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِمْ وَ التَّمَسُّكِ بِمَا أَمَرُوْا بِهِ فَإِنَّ فِيْهِ الْهُدَى

Artinya :

Dan Allâh berfirman (yang artinya) : "Allâh lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan" (Surah Al-An-'âm (6) : 124). Dan Dia pun memerintahkan -- manusia -- untuk mentaati mereka (para utusan) yaitu terhadap apa saja yang mereka datangkan, dan Allâh juga mendorong – manusia -- untuk mengikuti dan berpegang teguh dengan apa saja yang mereka perintahkan, karena di dalamnya ada hidayah (petunjuk).

Ayat ini menyebutkan alasan mengapa Allâh yang paling berhak memilih siapa yang dikehendaki-Nya untuk menjadi rasul (utusan), yaitu karena Dia yang paling tahu siapa yang paling pantas untuk menunaikan tugas kerasulan itu. Lalu Al-Imâm Al-Qurthubî mengakhiri ucapannya :

فَمَنِ ادَّعَى أَنَّ هُنَاكَ طَرِيْقًا أُخْرَى يُعْرَفُ بِهَا أَمْرَهُ وَنَهْيَهُ غَيْرُ الطُّرُقِ الَّتِي جَاءَتْ بِهَا الرُّسُلُ يَسْتَغْنِى بِهَا عَنِ الرَّسُوْلِ فَهُوَ كَافِرٌ يُقْتَلُ وَلاَ يُسْتَتَابُ

Artinya :

"Maka barang-siapa menyatakan bahwa di situ masih ada jalan lain yang -- dengan jalan itu -- dapat diketahui perintah dan larangan Allâh selain melalui jalan para rasul, dan dengan jalan itu ia merasa tidak membutuhkan seorang Rasul pun juga, maka ia termasuk orang kafir yang harus dijatuhi hukuman mati tanpa perlu disuruh bertaubat". (Lihat Al-Fathul Bârî juz I hal. 221)

Mereka adalah Laki-laki dan Butuh Makan Juga

Sebagaimana firman Allâh :

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلاَّ رِجَالاً نُوْحِي إِلَيْهِمْ فَسْئَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ. وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لاَ يَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَ مَا كَانُوْا خَالِدِيْنَ.

Artinya :

"Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah oleh kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tiada mengetahui. Dan tidaklah Kami jadikan mereka (para rasul) tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak pula mereka itu orang-orang yang kekal". (Surah Al-Anbiyâ' (22) : 7 & 8)

Mereka Memiliki Isteri dan Keturunan dan Tidak Bisa Mendatangkan Mu'jizat Kecuali Dengan Izin Allâh

Sebagaimana firman Allâh :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُوْلٍ أَنْ يِأْتِيَ بِئَايَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

Artinya :

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mu'jizat) melainkan dengan idzin Allâh. Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu).

(Surah Ar-Ra'd (13) : 38)

Maksudnya : Bagi tiap-tiap rasul itu ada Kitabnya yang sesuai dengan kebutuhan masanya.

Dan di dalam ayat ini juga ditegaskan bahwa tidak ada seorang rasul pun yang mampu mendatangkan atau memperlihatkan mu’jizat kecuali dengan idzin Allâh, berbeda halnya dengan para tukang sihir atau sulap yang setiap saat mampu memperlihatkan keajaiban melalui tipuan mata dan cara-cara syaithâniyah lainnya.

Mereka Berperang Dan Bersikap Teguh Dalam Berperang

Sebagaimana firman Allâh :

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌ فَمَا وَهَنُوْا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ

Artinya :

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut-pengikutnya yang bertaqwâ. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allâh, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada) musuh. Allâh menyukai orang-orang yang bersabar.(Surah Ali 'Imran (3) : 146)

Banyak dari Mereka yang Mati Dibunuh

Pembunuhan terhadap para nabi terutama sekali dilakukan oleh Banî Isrâ-îl sebagaimana disebutkan beberapa ayat dalam Al-Qur-ân, seperti dalam surah An-Nisâ' (4) ayat 155 :

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيْثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِئَايَاتِ اللهِ وَقَتْلِهِمُ اْلأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ

Artinya :

"Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian, dan karena kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allâh, dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar...".

Dan juga dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 91; yang merupakan perintah Allâh kepada Nabi kita, Muhammad saw. untuk bertanya kepada mereka (Banî Isrâ-îl) yang mengaku beriman kepada kitab yang diturunkan kepada mereka :

قُلْ فَلِمَا تَقْتُلُوْنَ أَنْبِيَاءَ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ

Artinya :

Katakanlah (Muhammad) : "Mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allâh jika kalian orang-orang yang beriman ?".

Mereka Juga Dihinggapi Rasa Takut

Sebagaimana dialami oleh Nabi Ibrâhîm a.s. ketika kedatangan serombongan tamu, yaitu para malaikat yang menyamar sebagai manusia. Al-Qur-ân telah menyebutkan peristiwa ini dalam surah Hûd (11) ayat 70 :

فَلَمَّا رَأىَ أَيْدِيَهمْ لاَ تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيْفَةً

Artinya :

"Maka tatkala ia (Ibrâhîm) melihat tangan mereka tidak menyentuhnya (makanan) -- yang disuguhkannya -- ia memandang aneh perbuatan mereka dan merasa takut kepada mereka...".

Demikian pula halnya dengan Nabi Mûsâ a.s., disebutkan dalam Al-Qur-ân bahwa beliau pernah mengalami rasa takut sebanyak empat-kali :

Pertama : Ketika beliau lari meninggalkan kota tempat tinggal beliau karena menghindar dari kejaran pembesar-pembesar Fir'aun; sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Qashash (28) ayat 28 :

فَخَرَحَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ، قَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ

Artinya :

Maka keluarlah Mûsâ dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, ia berdo'a : "Ya Rabb-ku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu".

Kedua : Ketika beliau pertama-kali melihat tongkatnya berubah menjadi ular; sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Qashash (28) ayat 31 :

وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ، فَلَمَّا رَأَىهَا تَهَتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ، يَا مُوْسَى أَقْبِلْ وَلاَ تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ اْلآمِنِيْنَ

Artinya :

(Allâh berfirman) : Dan lemparkanlah tongkat-mu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Mûsâ melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Allâh memanggilnya) : "Hai Mûsâ datanglah kepada-Ku dan janganlah engkau takut. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang aman".

Ketiga : Ketika Allâh memerintah beliau menemui Fir'aun untuk menyampaikan ayat-ayat Allâh dan berda'wah kepadanya agar ber'ibadah kepada Allâh; sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Qashash (28) ayat 33:

قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُوْنِ

Artinya :

Mûsâ berkata : "Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku pernah membunuh seorang manusia dari kalangan mereka, maka aku takut mereka (Fir'aun dan para pembesarnya) akan membunuh-ku".

Keempat : Ketika awal pertarungan beliau dengan para tukang sihir Fir'aun, sebagaimana disebutkan dalam surah Thâhâ (20) ayat 66 & 67 :

قَالَ بَلْ أَلْقُوْا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى. فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيْفَةً مُوْسَى.

Artinya :

Mûsâ berkata -- kepada mereka -- : "Silakan kalian semua melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, dikhayalkan kepada Mûsâ melalui -- kekuatan -- sihir mereka seakan-akan merayap cepat. Maka Mûsâ merasa takut dalam hatinya.

Mereka Juga Marah dan Sedih

Namun, kemarahan para nabi bukan disebabkan oleh masalah pribadi, akan tetapi karena perbuatan umat yang melanggar haq Allâh. Sebagaimana reaksi yang diperlihatkan oleh Nabi Mûsâ a.s. terhadap kaumnya ketika beliau melihat mereka menyembah patung anak sapi. Peristiwa ini disebutkan dalam Al-Qur-ân surah Al-A'râf (7) ayat 150 :

وَ لَمَّا رَجَعَ مُوْسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُوْنِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى أَلْوَاحَ وَ أَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيْهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ

Artinya :

Dan ketika Mûsâ kembali kepada kaumnya dengan sangat marah dan sedih hati, ia berkata : "Alangkah buruknya perbuatan yang kalian lakukan sesudah kepergian-ku! Apakah kalian hendak mendahulukan janji Rabb kalian?". Dan Mûsâ pun membanting luh-luh (Taurat) itu, dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Hârûn) sambil menariknya kearahnya.

Penyebutan kata Ghadhbân (غَضْبَانَ) dalam ayat ini adalah "Lilmubâlaghah", yaitu menunjukkan kemarahan yang luar-biasa, lalu dilanjutkan dengan membanting luh-luh, yaitu papan-papan yang memuat tulisan kitab Taurat dan menarik atau menjambak rambut saudaranya. Ini merupakan ungkapan kemarahan yang sangat.

Demikian pula halnya Nabi Yûnus a.s. sebagaimana diceritakan dalam surah Al-Anbiyâ' (21) ayat 87 & 88 :

وَ ذَا النُّوْنِ إِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لآ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَ نَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَ كَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِيْنَ.

Artinya :

Dan ingatlah (kisah) Dzan-Nûn (Yûnus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap : "Bahwa tidak ada Ilâh (Sesembahan yang berhak disembah) selain Engkau Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim". Maka Kami memperkenankan do'anya, dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang berimân.

Ini reaksi kemarahan yang lain lagi, yaitu reaksi Nabi Yûnus a.s. yang berda'wah mengajak kaumnya ber'ibadah kepada Allâh, akan tetapi kaumnya menolak da'wahnya sehingga beliau marah dan pergi meninggalkan kaumnya. Karena peristiwa itu Allâh menasehati Rasûlullâh saw. dalam surah Al-Qalam (68) ayat 48 :

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَ لاَ تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِ إِذْ نَادَى وَ هُوَ مَكْظُوْمِ

Artinya :

"Bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Rabb-mu, dan janganlah engkau seperti orang (Yûnus) yang ada dalam (perut) ikan ketika ia berdo'a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)".

‘A-isyah (radhiyallâhu 'anhâ) berkata :

مَا انْتَقَمَ رَسُوْلُ اللهِ - ص- لِنَفْسِهِ إِلاَّ أَنْ تُنْهَكَ حُرْمَةُ اللهِ فَيَنْتَقَمَ لِلَّهِ بها

Artinya :

"Rasûlullâh saw. tidak pernah memberikan sangsi yang keras (menyiksa) karena -- kemarahan -- dirinya, akan tetapi jika kehormatan Allâh dilanggar, maka beliau akan memberikan sangsi yang keras semata-mata karena Allâh".

(H.R. Al-Bukhârî juz IV hal. 230)

Mereka adalah Manusia Mulia dan Memiliki Derajat Luhur

Masih banyak lagi ayat Al-Qur-ân yang menunujukkan bahwa para nabi atau rasul itu adalah manusia bisa, namun mereka adalah manusia yang istimewa (utama), ma'shûm (terpelihara dari segala yang tercela) serta sempurna keimânannya dan akhlaqnya, sebagaimana firman Allâh :

أُولئِكَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ مِنْ ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ

Artinya :

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allâh, yaitu para nabi dari keturunan Adam.

(Surah Naryam (19) : 58)

Al-Imâm Ibnu Katsîr telah memberikan keterangan yang baik sekali tentang pribadi mereka, beliau berkata:

فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى جَعَلَ لَهُمْ مِنَ السِّمَاتِ الْحَسَنَةِ وَالصِّفَاتِ الْجَمِيْلَةِ وَاْلأَقْوَالِ الْفَضِيْلَةِ وَالْخَوَارِقُ الْبَاهِرَةِ وَاْلأَدِلَّةِ الظَّاهِرَةِ مَا يَسْتَدِلُّ بِهِ كُلُّ ذِي لُبٍّ سَلِيْمٍ وَبَصِيْرَةٌ مُسْتَقِيْمَةٌ عَلَى صِدْقِ مَا جَاءُوْ بِهِ مِنَ اللهِ

Artinya :

Sesungguhnya Allâh Ta'âlâ telah menjadikan kepribadian yang baik pada diri mereka, shifat-shifat yang sempurna, perkataan yang mulia, mu'jizat yang terang dan bukti-bukti yang jelas, yang menjadi dalil (fakta) bagi orang yang memiliki akal yang jernih, hati yang lurus, bahwa apa yang mereka sampaikan dari Allâh adalah benar". (Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz III hal. 313)

Selengkapnya. >

Memahami Tarbiyah

Kata "Tarbiyah" berakar pada "rabb" yang berarti "mengasuh, mendidik, menumbuhkan, mengatur". Kata ini juga serumpun dengan "rabbun" yang sering diartikan "Tuhan". Di dunia pendidikan, kata "Tarbiyah" identik dengan terjemahan "pendidikan" itu sendiri.

Berbeda dengan "ta'lim" yang berarti pengajaran. Kata "ta'lim" memuat intisari "ilmu" sehingga pengajaran atau taklim itu adalah proses transfer ilmu! Meski demikian, antara kata "tarbiyah" dan "ta'lim" selalu berinteraksi dan tidak bisa dipisahkan. Sebab, selain telah menjadi konotasi bahasa, keduanya memiliki benang merah yang berkorelatif. Artinya, proses pendidikan mau tidak mau harus diikuti juga dengan proses transfer ilmu. Sebaliknya, pendidikan harus membuat peserta didik berilmu. Maka, benar bila ungkapan: "al-ilmu bit-ta'allum", ilmu itu harus dengan belajar menuntut ilmu!

Tampaknya, kita memang perlu kembali memahami makna tarbiyah secara kaffah dengan melihat hakikatnya. Bila tarbiyah itu memang semakna dengan "rabbun" atau "Tuhan", maka pada garis finis proses tarbiyah juga harus bermuara pada makrifat terhadap Tuhan. Jadi, pendidikan yang kering akan nilai-nilai agama, yang tidak mengantarkan peserta didik pada makrifatullah, ia tidak pantas disebut dengan "Tarbiyah". Dengan kata lain, pendidikan itu gagal total!

Apabila "Tarbiyah" hanya berkutat pada hal-hal teknis seperti: pembuatan RPP, desain silabus, kontrak kuliah, presensi siswa, strategi belajar-mengajar, pemanfaatan media, workshop kurikulum, dan seterusnya, maka meski semua hal itu memang diperlukan karena semuanya adalah bagian dari "syariat tarbiyah", tapi pada hakikatnya, semua pernik-pernik pendidikan itu, sekali lagi, harus berakhir pada totalitas penghambaan terhadap Allah. Bila orientasi ini tidak ada, maka tarbiyah yang dijalankan harus segera di-rekonstruksi ulang karena telah kesalahan fatal di dalamnya. Bila hal ini tidak segera dilakukan, akibatnya akan terjadi "malapraktek pendidikan". Dan, indikasi terhadap penyimpangan ini, sesungguhnya telah mewabah dimana-mana.

Apabila pendidikan, entah dengan istilah tarbiyah atau taklim, tidak berpijak pada tauhid dan tidak bermuara pada makrifat, maka ilmu yang ditransfer oleh guru yang lalu diserap oleh peserta didiknya hanya akan menjadi lumbung ilmu yang kering tanpa hikmah. Ketika ilmu itu menggunung dan pada saat yang sama, ruhani sang penuntut ilmu masih labil karena tidak berpijak pada landasan agama secara kuat, maka pada saatnya tiba, ia akan semakin menjauh dari Allah. Inilah bencana paling berbahaya di dunia pendidikan. Jadi benar, bila Nabi bersabda, "Siapa yang ilmunya bertambah, tapi hidayahnya tidak, maka ia akan semakin bertambah jauh dari Allah".

Program-program pendidikan yang hanya menunjukkan citra belaka dan berorientasi pada proyek semata, sudah seharusnya dikritisi dan disadarkan. Lembaga pendidikan yang dalam proses belajar-mengajarnya hanya ingin mengais keuntungan materi, pada akhirnya akan jatuh juga. Sebab, lulusannya hanya akan menjadi "sampah" yang merusak tatanan pendidikan dan kemasyarakat. Maka, jangan heran, bila pendidikan selalu disalahkan ketika di tengah masyarakat terjadi penyimpangan moral. Itu karena memang tugas utama pendidikan adalah pembentukan moral berilmu yang agamis agar peserta didiknya menjadi "alim rabbani".

Selengkapnya. >

Senin, 18 Oktober 2010

Cerpen Sahabat jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta

Teng teng teng suara bel masuk sekolah pun masuk. Seperti biasanya ardi datang secepat dengan berlari, maklum dia emang udah langganan telat. Apesnya dia telat lagi. Seperti biasa ardi laangsung mendatangi pak atpam minta di bukain gerbangnya ”pak.....bukain gerbangnya donk ??? aku amu ulangan ni pakkk.....” memohon ardi. ”kamu itu, tiap hari kerjanya telat melulu???? G bisa, kamu harus di luar sampe jam pertama selesai.” sahut pak satpam.
”yak ilah bapak....ualangan ni aku sekarang????aku janji besok g bakalan telat lagi,,,tapi ijinin aku masuk pak??? Please pakkk??” ardi terus memohon.
”y udah kamu boleh masuk, tapi ada syaratnya.....!!!” jawab p. Satpam sambil senyum.
”syarat??syarat apa lagi sih pak, tinggal masuk aja pake syarat??”,jawab ardi yang sedikit heran.
”kamu mau masuk g, klo gak mau y udah, tunggu aja diluar!?!?” jawab p. Satpam dengan tegas,
”iiiiya iya pak, aku mau.apa syaratnya” jawab ardi agak takut
”push up dulu 30 kali, baru kamu bisa masuk?!?!”kata p. Satpam
”aduh pak, saya udah dandan cakep kyak gini di suruh push up,,tapi y udah lah saya mau push up, yang penting saya bisa masuk” jawab ardi yang lagsung melakukan push up.
Akhirnya ardi pun bisa masuk, meskipun dengan olah raga push up dari p. Satpam dulu. Dia berlari menuju kelas, tetapi sesampai di kelas gurunya gak datang, karena ada urusan mendadak dan ulangannya di pindah minggu depan.
”kok gak ada gurunya sih?? Padalan aku sudah push up di p.satpam, bela-belain lari, malah g datang gurunya.sialan”gumam ardi dalam hatinya
Selama jam kosong ardi memilih pergi ke kantin, untuk makan siang,maklum dia berangkatnya terburu-buru jadi gak sempet sarapan.
”ardi?????!!!” sapa seorang cewek dari belakang, yang ternyata adala ela, teman satu kelas ardi sejak kelas X sampai kelas XII.
”eh...kamu la, ada apa!!??” jawab ardi
”g ada pa-pa!!! Kamu mau ke kantin ya!!! Balas ela
”ho’oh!!napa ikut tha!!ayo deh kita kesana bareng?!?!” ajak ardi.
Sesamapainya di kantin mereka duduk bersama, seperti biasa mereke saling cerita, karena memang mereka menjadi sahabatan.
”la gimana menurut kamu soal anis!!”tanya ardi
”anis sapa?!?!” balas ela
”itu loh anis sepupu kamu?!!?bagaimana kalau dia jadian ma aku?!?” jawab ardi sambil senyum.
”aghuk......aghukk......!!”
”knapa la!?! Kamu ga pa pa?!?” tanya ardi yang agak kawatir
”g, g pa pa k.apa kamu bilang tadi u jadian sama anis??!!”jawab ela
”y semoga aja, dia itu cantik, anggun!?!? G kayak u, cewek tapi penampilan cowok?!?mana ada cowok yang mau sama kamu!?!?” ledek ardi
”biarin,,,yang penting aku bahagia penampilan kayak gini.g peduli ma omongan orang!!??”jawab ela
”yeeee....terserah lah?!terus pendapat kamu tentang anis gimana, apa kamu mau nyomblangin aku dengan dia?!?!”pinta ardi
”g, g mau aku?!?”jawab ela dengan singkat
”di mintai tolong k gitu ce la,?!?bantu donk wong y q yang minta tolong ae?!?!”rayu ardi
”kamu itu denger apa gak se di,aku g mau mbantuin kamu buat jadian ma anis, minta bantuan ma yang lain jangan ma aku?!?!”jawab ela dengan marah
”la, kamu kenapa ce,k tiba-tiba kamu marah!!!?,tersinggung tah kamu??” jawab ardi yang mulai panik
“gak?!?” jawab ela yang langsung pergi.
“la........?!!?” teriak ardi
*****
Katika ardi pulang sekolah tiba-tiba dia melihat anis yang sedang duduk di depan kelasnya.
“hai nis?!?gi ngapain?!?g pulang tha?!?apa kamu nunggu aku ya!?!?”tanya ardi sampil bercanda.
“apan sih...di!!bisa aja kamu itu. Terus kalau aku emang nunggu kamu kenapa?!?”jawab gurauan ardi
“y ga pa pa,aku datang untukmu.hahahaha?!?!”jawab ardi sambil tertawa
“emmh.....sebernya aku ga da temen buat pulang?!?”jawab anis dengan agak pelan.
“loh....mang kemana dina, diakan biasanya pelang pergi bersamamu?!” jawab ardi yang agak heran
“dina tadi pulang di jemput ma cowoknya!aku dajakin pulang bareng tapi aku ga enak aja kalau ngganggu mereka!mungkin mereka lagi kencan.!!biasalah orang yang lagi pacaran?!” jawab panjang lebar anis
“emang pacar kamu kemana, kok kamu gak di jemput pulang?!”jawab ardi lagi
“pacar apa, gak punya pacar q!?!” jawab anis
“masak cewek se cantik kamu ga punya pacar...gak mungkin?!?” jawab ardi sambil memuji
“yeee gak percaya, beneran ga punya pacar aku?!?” jawab anis
“emh....sama donk ma aku, aku juga gak punya pacar...bagaimana kalau kita pacaran?!?”jawab ardi sambil bercanda
“emhh....ayoo....tapi kamu kan cakep, pengemarnya, apa gak takut di tinggalin ma semua fans kamu?!?”tanya anis
“apaan sih biasa ajah kali?!? Ya udah kamu aku antar pulang sekarang ya cyankku.hahhaha?!?” ardi merayu
“hahaha....pake cyank segala.ada ada saja,,..ya udah de aku mau diantar pulang sama cyankku.”jawab anis sambil tersenyu.
Merteka pun akhirnya pulang bersama.
Sudah 1 minggu mereka jadian. Mereka sering berduaan, saling bercanda.
Suatu hari ardi dan ela yang udah gak marah lagi duduk bareng. Ardi mulai curhat masalah anis kepada ela.
“akhirnya la aku bisa jadian ma anis.....seneng banget rasanya.?!?” Tanya ardi sambil tersenyum
“apa kamu jadian ma anis..!?!? di kamu tau gak siapa anis itu sebenernya,,.dia itu play girl di,..kamu kok bisa ce di jadian ma dia.!?” Jawab ela agak marah
“aku tahu,.,tapi katanya dia udah berubah,.,katanya dia hanya cinta ma aku,., bukan ma yang lain?!” jawab ardi dengan tenang.
“di....meskipun dia ngomong kayak gitu, tapi nyatanya itu mang dia gak bisa berubah,.,” jawab ela yang berupaya menjelaskan tentang anis.
“udah lah la.aku udah tahu kok, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Menurutku anis gak seperti yang kamu pikirkan.?!?” Jawab ardi
“terserah kamu di....”jawab ela dengan marah dan langsung pergi.
Beberapa saat setelah ela pergi, anis datang, dan langsung duduk di samping ardi.
“kenapa yank ela.,kok kelihatannya marah gitu?!?” tanya anis
“gak tahu yank, ela mang gitu anaknya.,.?!? oya ntar malam jadi nonton ya,.,ya sekilian kencan gitu.?!?!” Tanya ardi sambil merayu
“emhh....gimana ya....sebenernya aku sibuk.,.,tpi berhubung yang ngajakin itu cyankku,,.jadi aku mau..?!?jawab anis
“y udah ntar malam aku jemput..,.,” jawab ardi
Mereka terus bercanda sambil menikmati makanan yang tersedia di kantin sampai bel masuk. Namanya orang yang lagi jatuh cinta, apa ajah bisa lupa, samapai-sampai mereka lupa kalau bel masuk udah berbunyi.

******
Kring kring kring bunyi telpon ardi bunyi, ternyata ela menelpon. Dia bilang ingin ketemuan di sebuah taman deket sebuah mall. Pukul 9 pagi nanti.
Jam telah menunjukkan pukul setenganh 9 dan ardi sudah siap untuk ke taman. Lima menit sebelum jam 9, ardi udah tiba dan ela ternyata udah nyampe lebih dulu.
“hai la,.,ada ap,mbahas soal anis lagi?!?udahlah gak usah pake ngomog yang gak bener” tanya ardi yang agak teges
“di aku tu gak pengen kamu dipermainkan sama anis.!?! Dia itu udah punya pacar salain kamu!?! Sebelum aku kesini tadi aku lihat anis jalan ma cowok lain?!?” jawab panjang lebar ela
“udah lah la,.,!?gak mungkin anis kayak gitu,.?!dia udah berubah,.?!?aku tahu kamu ngomong kayak gini gara-gara aku udah jarang berhubungan ma kamu lagi,aku lebih memperhatikan anis ketimbang kamu.,.jadinya kamu iri?!?” jawab ardi yang agak kesal
“apa kamu bilang.,.?!? ternyata percuma aku ngomong gini ke kamu, kamu ga bakalan mau mengerti, kamu lebih percaya ma orang yang kamu kenal, dari pada aku yang dari dulu menjadi sahabat kamu.,.,terserah lagi di,.kamu mau gimana,.,aku g peduli”jawab panjang lebar ela dan langsung pergi. Tak sengaja ela pun meneteskan air mata gara-gara ardi yang keras kepala. Ardi pun mengetahui kalau ela menangis,
“kenapa ela menangis!? Kenapa ela sampai membela aku kayak gitu?!? Kenapa ela sampai bela-belain ngomong tentang kejelekan anis kepada aku, padalan mereka adalah bersaudara.?!?” Tanya ardi dalam hati.
Ardi pun pulang, sengaja melihat anis yang sedang bermesraan dengan cowok lain. Dan mulai saat itu dia berpikiran untuk putus dengan anis. Sesampai di rumah dia langsung menelpon anis dan ardi minta putus, tanpa panjang lebar anis dengan mudah mengabulkan permintaan ardi tersebut.

******
Besok malamnya ardi pun pegi kerumah ela untuk minya maaf. Sesampainya dirumah ela yang berada di ruang tamu mengetahui kalau ardi datang dan dia langsung ngomong “ngapaen kamu kesinim!?urusin sana anis,?!?gak usah pake kesini segala?”
“aku mau minta maaf, aku yang salah, aku yang lebih ndengerin omongan anis ketimbang kamu yang sejak dulu jadi sahabatku!?!” jawab ardi dengan wajah melas
“ohhhhhh....nyesel ni ceritanya?!?terus kenapa baru sadar sekarang.?!?” Jawab ela yang agak marah
“karena aku baru tahu kemarin kalau anis udah punya pacar selain aku, dan aku udah putus dari dia?!?” jawab ardi lagi
“aduh kasian,,,..di duakan ya.kasian banged se?!?”jawab ela sambil ngeledek ardi
“iya aku ngerti, kamu benar, aku salah. Mangkanya aku minta maaf karena buat kamu menangis kemarin?!?” jawab ardi
“kata sapa aku menangis?!?” jawab ela yang kaget
“aku tahu kalau kamu kemarin menangis pas aku gak dengerin perkataanmu?!?”jawab ardi kembali
“emang kamu liat tah?!?” tanya ela yang sedikit gugup
“iya aku liat?!?kalau boleh tahu kenapa kamu kemarin menangis?!”tanya ardi
“ohhhh....kkkkkkemarin itu mataku........kemasukan debu, jadinya air mataku keluar.?!?” Jawab ela yang gugup
“aku boleh jujur ma kamu gak la?!?” tanya ardi
“apa, ngomong aja?!?” jawab singkat ela
“sebenernya aku ga ada persaan apapun terhadap anis, aku tahu anis itu cewek play girl, jadi aku buat seneng-seneng ajah. Dan yang paling penting tujuan aku untuk jadian ma anis itu.......?!?” jawab ardi yang menyisahkan tanda tanya.
“apa emang di?!?” tanya ela yang penasaran
“tujuan utamaku adalah aku pengen manas-manasin kamu, karena sejak kelas X aku sudah suka ma kamu, tapi kamu pernah bilang sendiri ke aku kalau selama SMA g bkalan pacaran, jadi aku g berani bilang ke kamu. Mangkanya aku manas-manasin kamu untuk liat apa kamu ada perasaan ke aku, ternyata menurut aku kamu juga ada perasaan ke aku.hahah.?!?”jawab ardi dengan ketawa pelan
“hah apa kamu bilang?!? Kamu suka ma aku sejak kelas X,.?!jahat banged sih?!? Kamu tahu gak, aku itu sakit hati saat liat kamu berduaan ma anis, aku tu sayang banged ma kamu sejak kelas X.tapi kenapa kamu gak pernah ngerti tentang prasaanku ini.?!?”jawab ela sambil marah
“hahahaha” ardi ketawa
“kenapa ketawa.....?!? suka ya liat aku sakit”jawab ela yang mulai menangis
“gak, seka ae aku, kamu beneran suka ma aku!?!” tanya ardi dengan Pdnya.
“Bangeeed......hiks hiks hiks”jawab pelan ela dengan menahan air matanya
“aku juga, sayang banged ma kamu, maafin aku ya syank.”jawab ardi sambil tersenyum
“iya syank...jangan di ulangi lagi ya cyank?!?” jawab ela sambil senyum
Mulai saat itu mereka resmi berpacaran. Dan sampai saat kuliah mereka satu universitas. Dan semoga ajah sampai menikah. amiiiin

Selengkapnya. >

Kamis, 14 Oktober 2010

Makalah Tentang Aliran Mu'tazilah

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
HADITS PERTAMA:
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.

HADITS KEDUA:
Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :

عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .
Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”

HADITS KETIGA:
Hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu 'anhu.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.
Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’

HADITS KEEMPAT:
Hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 golongan diriwayatkan juga oleh Anas bin Malik dengan mempunyai 8 (delapan) jalan (sanad) di antaranya dari jalan Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3993:

Lafazh-nya adalah sebagai berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اِفْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً؛ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang semuanya berada di Neraka, kecuali satu golongan, yakni “al-Jama’ah.”

HADITS KELIMA:
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dalam Kitabul Iman, bab Maa Jaa-a Fiftiraaqi Haadzihil Ummah no. 2641 dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dan Imam al-Laalika-i juga meriwayatkan dalam kitabnya Syarah Ushuli I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/111-112 no. 147) dari Shahabat dan dari jalan yang sama, dengan ada tambahan pertanyaan, yaitu: “Siapakah golongan yang selamat itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

مَاأَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ
“Ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para Shahabatku.”
Lafazh-nya secara lengkap adalah sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِيْ مَا أَتَى عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِيْ أُمَّتِيْ مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh akan terjadi pada ummatku, apa yang telah terjadi pada ummat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka niscaya akan ada pada ummatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya bani Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah saja dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah, yang semuanya di Neraka kecuali satu millah.’ (para Shahabat) bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.’”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2641, dan ia berkata: “Ini merupakan hadits penjelas yang gharib, kami tidak mengetahuinya seperti ini, kecuali dari jalan ini.”)’
Dari beberapa hadits di atas Rosululloh telah berkali-kali mengatakan bahwa kaumnya (islam) akan terpecah menjadi 73 golongan.dan dari golongan tersebut terdapat satu golongan yang terbaik dari pada golongan yang lain. Dan Rosululloh sendiri tidak menyebutkan golongan mana yang terbaik.
Salah satu golongan dari islam yang menganggap bahwa golongannya adalah yang paling baik dan yang paling benar adalah golongan Mu’tazilah.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah Mu’tazilaj itu ?
2. Bagaimana sejarah munculnya aliran Mu’tazilah ?
3. Bagaimana konsensus-konsensus dan perkembangan aliran Mu’tailah ?
4. Siapakah tokoh-tokoh dalam aliran Mu’tazilah ?
5. Apa ajaran-ajaran dasar yang di ajarkan kepada pengikut aliran Mu’tazilah ?
6. Apa yang di maksud dengan paham al-Mihnah ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang di maksud dengan aliran Mu’tazilah.
2. Mengetahui sejarah munculnya aliran Mu’tazilah.
3. Mengetahui konsensus-konsensus dan perkembangan aliran Mu’tazilah.
4. Mengetahui tokoh-tokoh dalam aliran Mu’tazilah.
5. Mengetahui ajaran-ajaran dasar aliran Mu’tazilah.
6. Mengetahui apa yang yang dimaksud dengan paham al-Mihnah.

BAB II
ISI

2.1 Aliran Mu’tazillah
Kaum Mu’tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari pada persoalan-persoalan yang dibawa kaum Khawarij dan Murjia’ah. Dalam pembahasan, mereka memakai akal sehingga mereka mendapatkan nama “kaum rasionalis islam’.
Mereka disebut kaum Mu’tazilah karena ada yang berpendapat bahwa orang berdosa besar bukan mukmin dan bukan pula kafir, tetapi mengambil posisi diantara kedua posisi itu (al-manzilah bain al-manzilatain). Menurut versi ini mereka disebut kaum Mu’tazilah, karena mereka membuat orang yang berdosa besar jauh dari (dalam arti tidak masuk) golongan mukmin dan kafir.
Disamping keterangan-keterangan klasik ini, ada teori baru yang dikemukakan oleh Ahmad Amin. Nama Mu’tazilah sudah ada sebelum adanya peristiwa Wasil dengan Hasan al-Basri dan sebelum timbulnya tentang timbulnya pendapat posisi di antara dua posisi. Kalau itu dipakai sebagai designatie terhadap golongan orang-orang yang tak mau turut campur dalam pertikaian-pertikaian politik yang terjadi di zaman Ustman Bin Affan dan Ali Bin Abi Tholib. Mereka menjauhkan diri dari golongan-golongan yang saling bertikai. al-Tabari menyebutkan bahwa sewaktu Qais Ibnu sa’ad sampai di Mesir sebagai gubernur dari Ali Bin Abi Tholib, ia menjumpai pertikaian di sana. Satu golongan turut padanya, dan satu golongan yang lain menjauhkan diri diri ke Kharbita (I’tazalat ila Kharbita). Dalam suratnya kepada khalifah, Qais menamai mereka “mu’tazilin”. Kalau al-tabari menyebut nama “Mu’tazilin”, Abu al-Fida, memakai kata “al-Mu’tazilah” sendiri.
Jadi kata-kata “i’tazala” dan ”Mu’tazilah” pertama kali dipakai kira-kira seratus tahun sebelum peristiwa Wasil dengan Hasan al-Basri, dalam arti golongan yang tidak mau turut campur dalam pertikaian politik yang ada di zaman mereka.
Dengan demikian golongan Mu’tazilin memiliki pertama ini memiliki corak politik. Dan dalam pendapat Ahmad Amin, Mu’tazilah kedua, yaitu golongan yang ditimbulkan Wasil, juga mempunyai corak politik, karena mereka sabagai kaum khawarij dan murji’ah, juga membahas praktek-praktek politik yang dilakukan Ustman, Ali, Mu’awiyah, dan sebagainya. perbedaan antara keduanya adalah Mu’tazilah kedua menambahkan persoalan-persoalannya teologi dan falsafat ke dalam ajaran-ajaran dan pemikiran mereka.
C.A. Nallino, seorang Orientalist Italia mempunyai pendapat yang hampir sama dengan Ahmad Amin. Berdasarkan kepada versi Ma’udi tersebut sebelumnya, ia berpendapat bahwa Mu’tazilah sebenarnya tidak mengandung arti “memisahkan diri dari umat Islam lainnya,” sebagai yang terkandung dalam versi yang diberikan al-Syahrastani, al-Bahdadi, dan Tasy Kubra Zadah. Tetapi sebaliknya, nama itu diberikan kepada mereka, karena mereka, menurut versi Mas’udi, merupakan golongan yang berdiri netral di antara khawarij, yang memandang Ustman, Ali, Mu’awiyah dan orang berdosa besar lainya kafir dan Murji’ah yang memandang mereka tetap mukmin. Oleh karena itu, Nallino berpendapat bahwa golongan Mu’tazilah kedua mempunyai hubungan yang erat dengan golongan Mu’tazilah Pertama. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa golongan Mu’tazilah kedua adalah lanjutan dari golongan Mu’tazilah yang pertama.
Tetapi teori ini dibantah oleh Ali Sami al-Nasysyar dengan mengemukakan argument bahwa ada diantara khalifah-khalifah Bani Umayyah yang menganut paham Mu’tazilah. Bani Umayyah termasuk dalam salah satu golongan yang bertentangan dengan kaum Khawarij dan yang dipandang oleh kaum Mu’tazilah sebagai orang berdosa besar dan akan kekal dalam neraka. Dengan demikian, bagaimana dengan khalifah dari bani Umayyah, Tanya al-Nasysyar, dapat menjadi pengikut bagi golongan yang memandang dirinya berdosa besar dan akan kekal dalam neraka.
Al-Nasysyar selanjutnya berpendapat bahwa nama Mu’tazilah betul timbul dalam lapangan pertentangan-pertentangan politik islam terutama antara Ali dan mu’awiyah tetapi nama itu tidak dipakai untuk satu nama golongan tertentu. Argumentasi yang dimajukan al-Nasysyar bahwa kata-kata i’tazala dan Mu’tazilah terkadang dipakai untuk orang yang menjauhkan diri dari peperangan –peperangan, orang yang menjaukan dari Ali dan sebagainya. orang yang demikian hakikatnya menjauhkan diri dari masyarakat umum dan memusatkan pemikiran pada ilmu pengetahuan dan ibadat. Di antara orang-orang yang serupa ini, terdapat dua orang dari cucu-cucu Nabi yaitu Abu Hasyim, Abdulloh dan al-Hasan Ibnu Hanafiah. Dan Wasil mempunyai hubungan erat dengan Wasil. Jadi menurut al-Nasysyar golongan Mu’tazilah kedua timbul dari orang-orang yang mengasingkan diri untuk ilmu pengetahuan dan ibadat dan bukan bukan dari golongan Mu’tazilah yang dikatakan merupakan aliran politik.
Untuk mengetahui asal-usul nama golongan Mu’tazilah itu dengan sebenarnya memang sulit. Beberapa dari para ahli telah mengajukan pendapat, tetapi belum ada kata sepakat diantara mereka. Yang jelas bahwa nama Mu’tazilah sebagai designatie bagi teologi rasional dan liberal dalam islam timbul sesudah peristiwa Wasil dan Hasan al-Basri di Basrah dan bahwa lama peristiwa Basrah itu telah pula terdapat kata-kata I’tazala, al-Mu’tazilah. Tetapi apa hubungan yang terdapat antara antara Mu’tazilah pertama dan Mu’tazilah kedua, fakta-fakta yang ada belum memberikan kepastian. Selanjutnya siapa pula yang memberikan nama Mu’tazilah kepada Wasil dan pengikutnya, juga tidak jelas pula. Ada yang mengatakan golongan lawanlah yang memberikan nama itu. Tetapi kalau kita kembalikan kepada ucapan-ucapan kaum Mu’tazilahitu sendiri, akan kita jumpai di sana keterangan-keterangan yang dapat member kesimpulan bahwa mereka sendirilah yang memberikan nama itu kepada golongan mereka; atau sekurang-kurangnya mereka setujuh dengan nama itu. Al-Qadi, Abdul al-Jabbar, umpamanya mengatakan bahwa kata-kata I’tazala yang terdapat dalam al-Qur’an mengandung arti menjauhi yang salah dan tidak benar dan dengan demikian kata Mu’tazilah mengandung arti pujian. Selanjutnya ia menerangkan terdapat hadits Nabi yang mengatakan bahwa umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang paling patuh dan yang terbaik dari seluruh golongan ialah golongan Mu’tazilah. Bahkan menurut Ibnu al-Murtada kaum Mu’tazilah sendirilah, dan bukan orang lain yang memberikan nama itu kepada mereka.
Mereka tidak memendang nama Mu’tazilah itu sebagai nama ejekan, selain dengan nama Mu’tazilah golongan ini juga dikenal dengan nama-nama lain. Mereka sendiri selalu menyebut golongan mereka sebagai Ahl al-Adl dalam arti golongan yang mempertahankan keadilan Tuhan, dan juga Ahl al-Tauhid Wa al-‘Adl, golongan yang mempertahankan keesaan murni dan keadilan Tuhan. Lawan mereka memakai nama-nama seperti al-Qadariah, karena mereka menganut paham free will dan free act; al-Muattilah, karena mereka berpendapat bahwa Tuhan tidak memiliki sifat dalam arti sifat mempunyai wujud di luar zat Tuhan; dan Wa’idiah, karena mereka berpendapat bahwa ancaman-ancaman Tuhan orang-orang yang tidak patuh, pasti dan tak boleh tidak akan menimpah diri mereka.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa orang yang pertama membina aliran Mu’tazilah adalah Wasil Ibnu Ata’. Sebagai dikatakan al-Mas’udi, ia adalah syaikh al-Mu’tazilah wa qodilmuha, yaitu kepala dan Mu’tazilah tertua. Ia lahir tahun 81H di Madinah dan meninggal 131H. di sana dia belajar pada Abu Hasyim Abdulloh Ibnu Muhammad Ibnu Hanifah, kemudian pindah ke Basrah dan Belajar pada Hasan al-Basri.
2.2 Perkembangan Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah sebagai salah satu aliran Mutakallimin mempunyai peranan besar dalam sejarah pemikiran Islam. Aliran inilah yang pertama kali mempersenjatai Islam dengan filsafat dalam usaha mempertahankan Islam dari serangan-serangan luar. Demikian pula, aliran Mu’tazilah yang meletakkan dasar bagi lahirnya filsafat Islam dengan tokoh-tokohnya yang datang kemudian seperti; Al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina dan sebagainya.
Dalam perkembangannya, aliran Mu’tazilah pernah memperoleh pengaruh dalam masyarakat Islam. Pengaruh itu mencapai puncaknya di zaman khalifah-khalifah Bani Abbas, al-Ma’tasim dan al-Watsiq (813 M. – 847 M.), diakui sebagai mazhab resmi yang dianut negara, khususnya pada masa al-Ma’mun (827 M). Pengakuan seperti itu, karena al-Ma’mun adalah seorang murid dari Abu al-Hudzaih al-Allaf, seorang tokoh Mu’tazilah. Lagi pula al-Ma’mun dan kaum Mu’tazilah mencapai hubungan yang serasi dalam ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan keagamaan, antara lain ajaran tentang kemakhlukan al-Quran. Kaum Mu’tazilah oleh penguasa diserahkan untuk melaksanakan dialog-dialog seputar al-Quran. Karena itu faham Mu’tazilah terutama ajaran tentang kemakhlukan al-Quran menjadi isu teologis yang pemasyarakatannya dilaksanakan oleh penguasa.
Di sisi lain, para hakim dan tokoh-tokoh masyarakat baik dari kalangan ahli fiqih maupun ahli hadis berpendirian bahwa al-Quran bukanlah makhluk tetapi qadim. Faham ini yang banyak dianut oleh masyarakat pada waktu itu. Faham seperti itu ditokohi oleh Ahmad Ibnu Hambal dan Muhammad Ibnu Nuh yang pada saat diuji tetap berkeras dan tidak mau merubah keyakinan itu. Bagi kaum Mu’tazilah, termasuk al-Ma’mun memandang bahwa faham tersebut adalah suatu kekeliruan dan termasuk syirik yang harus diluruskan dan pelaksanaannya akan berjalan efektif bila dilakukan oleh penguasa melalui pemaksaan kehendak. Pemaksaan kehendak inilah yang melahirkan gerakan al-mihnah.
Dengan gerakan al-mihnah agaknya mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan aliran Mu’tazilah, yang mencapai puncak pada masa khalifah-khalifah Abbasiyah yang telah disebutkan sebelumnya. Namun pada masa pasca al-mihnah, pada masa al-Mutawakkil, mulailah pengaruh Mu’tazilah mengalami kemunduran karena faham Mu’tazilah tidak lagi menjadi mazhab negara.
2.3 Tokoh-tokoh Aliran Mu’tazilah
Tokoh tokoh Mu’tazilah sangat banyak sekali jumlahnya dan masing masing tokoh mempunyai pikiran dan ajaran ajaran sendiri yang berbeda dengan tokoh sebelumnya ataupun pada masanya. Di antara tokoh tokoh aliran Mu’tazilah antara lain:
1. Wasil Bin Atha’ (80-131 H/699-748 M)
Lengkapnya Wasil bin Atha’ al-Ghazzal, beliau terkenal sebagai pendiri aliran Mu’tazilah dan kepalanya yang pertama beliau pulalah yang meletakkan lima prinsip ajaran Mu’tazilah.
2. Al- Allaf (135-226 H/752-840 M)
Namanya Abdul Huzail Muhammad bin al-Huzail al-Allaf. beliau merupakan murid dari Usama at-Tawil, murid Wasil. Puncak kebesarannya terjadi pada masa al-Ma’mun. Dalam suatu riwayat di sebutkan bahwa ada sekitar 3000 orang yang masuk islam di tangannya Hal itu di karenakan hidupnya penuh dangan perdebatan dengan orang-orang zindiq, skeptik, majusi, zoroaster, dll.
3. An-Nazzham (wafat 231 H/845 M)
Lengkapnya Ibrahim Bin Sayyar Bin Hani an-Nazzham, beliau murid dari Al-Allaf, beliau juga merupakan tokoh terkemuka yang fasih bicaranya dan terkesan mempunyai otak yang cerdas. Dimana beberapa pemikirannya telah mendahului masanya, antara lain tentang methode of doubt dan empirika yang menjadi dasar renaissance di eropa.
4. Al-Jubba’ie (wafat 303 H/915 M)
Nama lengkapnya Abu Ali Muhammad bin Ali al-Jubba’ie, beliau murid dari as-Syahham (wafat 267 H/885 M) yang juga tokoh Mu’tazilah. Beliau juga guru dari Imam Asy’ary, tokoh utama aliran al-Asy’ariyah.
5. Bisjr Bin Al-Mu’tamir (wafat 226 H/840 M)
Beliau adalah pendiri aliran Mu’tazilah bagdad. Pandangannya tentang kesasteraan menimbulkan dugaan bahwa dialah oaring yang pertama mengadakan ilmu balaghah. Di antara murid muridnya yang besar pengaruhnya dalam penyebaran aliran Mu’tazilah di bagdad adalah Abu Musa al-Mudar, Tsumamah Bin al-Asyras, dan Ahmad bin Abi Fu’ad.
6. Az-Zamaihsyari (467-538 H / 1075-1144 M)
Namanya Jar Allah Abul Qosim Muhammad bin Umar kelahiran Zamachsyar, sebuah dusun di negeri Chawarazm, Iran. Pada diri beliau terkumpul karya aliran Mu’tazilah selama kurang lebih empat abad. Beliau juga menjadi tokoh dalam ilmu nahwu, tafsir dan paramasastera (lexicology) seperti yang dapat kita lihat dalam kitab al-Kassyaf, al-Faiq, dll.
2.4 Ajaran-ajaran Dasar Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah berdiri atas lima prinsip utama yang juga di kenal al-Ushul al-Khamsah yang di urut menurut kepentingan dan kedudukannya. Kelima ajaran dasar pokok tersebut adalah:

1. Keesaan (Tauhid)
At-Tauhid merupakan prinsip utama dan inti sari dalam ajaran Mu’tazilah. Walau sebenarnya setiap madzhab teologis dalam islam memegang doktrin ini, namun bagi Mu’tazilah tauhid memiliki arti yang spesifik. Tuhan harus di sucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan-Nya. Tuhanlah satu-satunya yang esa, tak ada satupun yang menyamai-Nya. Boleh jadi apa yang menyebabkan mereka mempetahankan keesaan itu semurni-murninya ialah karena mereka menghadapi golongan Syi’ah Rafidah yang extrem dan yang menggambarkan Tuhan dalam bentuk yang berjism dan bisa di indera, di samping golongan-golongan agama dualisme dan trinitas.
Untuk memurnikan keesaan Tuhan, Mu’tazilah menolak konsep Tuhan yang memiliki sifat-sifat, penggambaran fisik Tuhan (antromorfisme tajassum), dan Tuhan dapat di lihat dengan mata kepala. Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan itu esa, tak ada satupun yang menyamai-Nya. Dia maha melihat, mendengar, kuasa, dll.
Namun mendengar, melihat dan kuasa Tuhan bukan sifat tapi dzat-Nya. Menurut mereka sifat adalah sesuatu yang melekat. Jadi bila sifat Tuhan yang qadim, berarti ada dua yang qadim.
Imam Asy’ari dalam bukunya Maqalatul Islamiyyin mengutip tafsir tentang keesaan yang di berikan oleh aliran Mu’tazilah sebagai berikut :
Allah Yang Esa / Tidak sesuatu yang menyamai-Nya / Bukan jism/
Bukan pribadi (syachs) / Bukan jauhar (subtance) / Bukan aradh (non essential property) / Tiada berlaku zaman atas-Nya / Tiada tempat bagi-Nya / pada-Nya tiada sifat makhluk yang berindikasi non azali / Tiada batas bagi-Nya / Bukan ayah tiada menganakkan / Bukan anak tiada lahirkan / mustahil diindera / mustahil ada makhluk yang menyamai-Nya / tiada terlihat mata kepala / Tiada dicapai penglihatan / mustahil dipikir dan diterka / sesuatu bukan seperti segala sesuatu / Maha tahu / Maha kuasa / Maha hidup / tetapi, bukan seperti orang tahu / bukan seperti orang berkuasa / bukan seperti oaring hidup / Ia Qadim semata / tiada yang qadim selain-Nya / tiada Tuhan selain-Nya / tiada pembantu bagi-Nya dalam menciptakan / tiada teladan bagi ciptaan-Nya.
Dari kutipan tersebut bisa kita simpulkan antara lain:
Aliran Mu’tazilah mengenal pikiran pikiran filsafat serta memakai beberapa istilahnya, antara lain jauhar, aradh, syachs, dll
Dengan perkataan tiada yang menyamai-Nya, mereka menolak pikiran pikiran golongan antropomoohist dan membuka lebar lebar pintu takwil terhadap ayat al-Qur’an yang menyifati Tuhan dengan sifat manusia dengan takwil majazi.
Dengan keesaan yang mutlak, mereka menolak konsep agama dualisme dan trinitas tentang Tuhan
Dengan perkataan tiada pembantu bagi-Nya dalam menciptakan dan tiada teladan bagi-Nya, mereka menolak teori Idea dari plato dan demiurge, Juga teori emanasi dan triads yang di anggap menguasai alam semesta ini oleh aliran Neo Platonisme, yaitu Tuhan, logos dan world souls.
2. Keadilan Tuhan (Al-‘Adlu)
Ajaran dasar Mu’tazilah yang ke dua adalah Al-Adlu, keadilan Tuhan, yang berarti Tuhan maha adil. Adil ini merupakan sifat yang paling gambling untuk menunjukkan kemaha sempurnaan, karena Tuhan maha sempurna, dia pasti adil. Dan semua orang percaya akan hal itu tetapi Mu’tazilah memperdalam arti keadilan serta menentukan batas batasnya, sehingga menimbulkan beberapa persoalan. Dasar keadilan yang di pegangi mereka ialah meletakkan pertanggungan jawab manusia atas segala perbuatannya. Dalam menafsirkan keadilan mereka berkata:
“Tuhan tidak menghendaki keburukan, tidak menciptakan perbuatan manusia. Manusia bisa mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, dengan kodrat (kekuasaan) yang di jadikan oleh Tuhan pada diri mereka. Ia hanya memerintahkan apa yang dikehendaki-Nya.Ia hanya menguasai kebaikan kebaikan yang diperintahkan-Nya dan tidak campur tangan dengan keburukan yang di larang-Nya sehingga kelanjutan dari prinsip tersebut bisa di tarik benang merah yang antara lain:
 Tuhan menciptakan manusia atas dasar tujuan dan hikmah
 Tuhan tidak menghendaki keburukan dan tidak pula memerintahkannya
 Manusia punya kesanggupan untuk mewujudkan perbuatan perbuatannya, sehingga dengan demikian dapat dipahami ada perintah perintah Tuhan, janji dan ancamanNya, pengutusan rosul-rosul, tiada kedzaliman pada Tuhan.
 Tuhan harus dan mesti mengerjakan yang baik dan yang terbaik karena itu merupakan kewajiban Tuhan untuk menciptakan, memerintahkan manusia serta membangkitkannya kembali.

3. Janji dan Ancaman (Al Wa’du wal Wa’id)
Ajaran dasar yang ketiga dalam aliran Mu’tazilah adalah tentang janji dan ancaman Tuhan (Al Wa’du wal Wa’id). Prinsip ini sangat erat hubungannya dengan keadilan Tuhan. Prinsip ini kelanjutan dari prinsip yang kedua yaitu tentang keadilan Tuhan. Yang artinya aliran Mu’tazilah yakin bahwa Tuhan yang maha adil dan maha bijaksana tidak akan melanggar janji-Nya, yaitu janji akan memberikan pahala bagi orang yang berbuat baik dan janji akan menjatuhkan siksaan bagi orang yang durhaka pada-Nya.
Ini sesuai dengan prinsip keadilan Tuhan. Jelasnya siapa yang berbuat baik akan di balas dengan kebaikan pula. Begitu pula sebaliknya siapa yang berbuat ma’siat maka akan di balas dengan siksaan yang pedih. Dengan kata lain barang siapa yang keluar dari dunia dengan segala ketaatan dan penuh taubat, ia berhak atas pahal yang di janjikan Tuhan. Dan siapa yang keluar dari dunia tanpa taubat dari dosa besar, maka ia akan di abadikan di neraka walau lebih ringan siksaannya dari orang kafir
Pendirian ini kebalikan dari pendapat golongan Murji’ah yang mengatakan bahwa kema’syiatan tidak mempengaruhi iman kalau pendirian ini di benarkan, maka ancaman Tuhan tidak akan ada artinya. Karena itulah golongan Mu’tazilah mengingkari adanya syafaat pada hari kiamat, dengan mengenyampingkan ayat-ayat yang menetapkan adanya syafi’at (baca Al Baqarah ayat 254 dan 45), karena menurut mereka hal itu bertentangan dengan prinsip janji dan ancaman Tuhan.
4. Diantara Dua Tempat (Al Manzilatu bainal Manziltaini)
Karena prinsip ini, Wasil Bin Atha’ memisahkan diri dari majlis Hasan Basri yang pada akhirnya menyebabkan lahirnya istilah Mu’tazilah yang setelah waktu berkembang menjadi nama golongan atau aliran.
Prinsip “di antara dua tempat” ini pada dasarnya merupakan pembahasan seputar tahkim terhadap pelaku dosa besar. Menurut pendapat Wasil Bin Atha’ pelaku dosa besar selain syirik, bukan lagi menjadi orang mukmin (murji’ah) dan bukan pula menjadi orang kafir (khawarij) melainkan menjadi orang fasik. Jadi kefasikan merupakan tempat tersendiri antara kufur dan iman. Tingkatan seorang fasik berada dibawah orang mukmin dan di atas orang kafir. Pendapat ini juga beda dengan pendapat Hasan Basri yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar di hukumi munafik.
Jalan tengah ini yang juga berlaku pada bidang yang lain, diambil oleh aliran Mu’tazilah dari beberapa sumber,antara lain:
 Al Qur’an: surat Al Isra’ ayat 31 & 110 / surat Al Baqarah ayat 137
 Hadist: seperti “ chairul umuri ausathuha” sebaik baik perkara adalah yang tengah tengah.
 Kata kata: hikmah dari cendekiawan islam, seperti perkatan sayyidina Ali R.A “Kun fiddunia wasathan“ jadikan kamu dalam dunia ini tengah-tengah.
Sumber lain dari prinsip ini adalah filsafat Yunani, antara lain Aristoteles yang terkenal dengan teori jalan tengah emas (Golden means)
Dengan dasar sumber sumber keislaman dan sumber yunani tersebut, maka aliran Mu’tazilah lebih memperdalam pemikirannya tentang jalan tengah tersebut, sehingga menjadi prinsip dalam lapangan berpikir (rasio) dan akhlaq (etika) dan menjadi landasan berfilsafat, yang selalu menghendaki bersikap sedang (moderation) dalam segala hal. Prinsip ini nampak jelas dalam usaha mereka mempertemukan agama dengan filsafat.
5. Memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan (Al ‘amru bil ma’ruf wa An nahyu ‘anil munkari)
Ajaran dasar yang kelima adalah amar ma’ruf nahi munkar. Ajaran ini menekankan keberpihakan kepada kebenaran dan kebaikan. Ini merupakan konsekwensi logis dari keimanan seseorang. Pengakuan keimanan seseorang harus di buktikan dengan perbuatan baik, yang salah satu diantaranya adalah menyuruh orang berbuat baik dan melarangnya berbuat buruk.
Sumber sumber dari prinsip ini antara lain terdapat dalam:
 Al Qur’an: surat Ali Imran ayat 104 dan surat Luqman ayat 17.
 Al Hadist: sabda sabda Nabi S.A.W. yang antara lain:
“man ro’a minkum munkaron fal yughayyir bi yadihi fain lam yastathi’ fa bi lisanihi fain lam yastathi’ fa biqolbihi, wadzalika adh’aful iman”
Sejarah pemikiran islam membuktikan betapa giatnya orang Mu’tazilah mempertahankan islam terhadap kesesatan yang tersebar luas pada masa khilafat bani Abbasiyyah yang hendak menghancurkan kebenaran kebenaran islam, bahkan mereka tak segan segan menggunakan kekerasan dalam melaksanakan prinsip tersebut, meskipun terhadap golongan islam sendiri.
2.5 Paham al-Mihnah
Kata Al-Mihnah diambil dari kata mhn, pecahan dari kata mahana, yahmanu, mahnan yang berarti cobaan, menguji, memeriksa.
Ahmad Amin dalam bukunya yang berjudul Dhuha al-Islam, menyatakan bahwa al-Mihnah dalam kaitannya dengan perjalanan Mu’tazilah dimaksudkan sebagai pemeriksaan untuk mengetahui para ulama dan pejabat kehakiman mengenai kemakhlukan al-Quran. Bagi mereka berpendirian keqadiman al-Quran maka siksalah yang diterima, karena keyakinan seperti itu dianggap syirik yang harus dibetulkan dengan cara amar ma’ruf nahyi munkar, dan bila perlu dengan kekerasan.
Jadi dapat dipahami bahwa al-Mihnah adalah suatu tuduhan atau introgasi yang dilakukan oleh kaum Mu’tazilah terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka.
Al-Mihnah muncul seiring dengan adanya dukungan dan lindungan dari khalifah al-Ma’mun, yang dikenal sebagai khalifah Abbasiyah yang condong ke dunia ilmiah dan pemikiran saintifik terhadap kaum Mu’tazilah. Dengan dukungan dan lindungan ini, kaum Mu’tazilah berada pada posisi yang kuat, bahkan mazhabnya dijadikan sebagai mazhab resmi negara. Dengan kekuasaan yang dimiliki, Mu’tazilah menghadapi lawan-lawannya dengan cara-cara yang penuh kekerasan. Puncak kekerasan itu ialah diadakanlah al-Mihnah, yaitu untuk menguji pendapat dan kesetiaan para hakim, pemuka-pemuka dalam pemerintahan dan juga terhadap pemuka-pemuka yang berpengaruh dalam masyarakat terhadap paham Mu’tazilah disertai tindak kekerasan dan paksaan agar mereka mau menerima paham bahwa al-Qur’an itu makhluk Tuhan.
Menurut riwayat, masalah al-Mihnah sudah muncul sebelum masa khalifah al-Ma’mun berkuasa. Masalah ini pernah dibicarakan oleh al-Ja’ad Ibnu Dirham, akan tetapi tidak berkembang karena ia segera dibunuh oleh Khalid Ibnu Abdullah, Gubernur Kufah. Hal yang sama dialami oleh al-Jahm Ibnu Safwan.
Pada masa pemerintahan al-Ma’mun, pelaksanaan al-Mihnah dibagi kepada empat macam tingkatan: Pertama, mereka yang menolak tidak dapat lagi diterima kesaksiannya di Pengadilan. Kedua, Mereka yang bekerja sebagai guru atau muballigh, diputuskan tunjangan yang diperolehnya dari Khalifah. Ketiga, Jika masih tetap menolak akan dicambuk dan dirantai kemudian dimasukkan ke dalam penjara. Keempat, Proses terakhir dari segalanya adalah hukuman mati dengan leher dipancung.
Tindak kekerasan yang ditempuh oleh Mu’tazilah dalam menyampaikan ajarannya itu berkurang setelah al-Ma’mun meninggal tahun 833 M. Setelah al-Ma’mun, pemerintah dijabat al-Mu’tashim. Ia adalah tokoh yang kurang memperhatikan masalah ilmiah, teologi dan filsafat. Namun demikian, ia tetap melaksanakan kebijakan yang pernah dilakukan oleh al-Ma’mun sebelumnya. Ia tetap menahan dan memenjarakan Ahmad Ibnu Hambal selama 18 bulan. Kemudian Ahmad Ibnu Hambal dikeluarkan dan dibebaskan untuk menyampaikan fatwa sampai al-Mu’tashim meninggal dunia.
Kedudukan khalifah selanjutnya dipegang oleh Watsiq putra al-Mu’tazim. Berbeda dengan ayahnya, ia sangat menaruh perhatian terhadap bidang ilmiah dan teologi, sehingga ada yang mengindetikkannya dengan khalifah al-Ma’mun dan bahkan lebih besar dari al-Ma’mun. Karena ia dalam melaksanakan tindakan al-Mihnah itu lebih ketat, bahkan memperlakukan para penentangnya dengan sangat kasar. Ahli fiqih seperti Yusuf Ibnu Yahya al-Buwaity, Ahmad Ibnu Nasir dan Naim Ibnu Hammad adalah termasuk orang-orang yang mati dalam penganiayaan yang dilakukan oleh al-Watsiq. Namun kepada Ibnu Hambal, ia agak lunak, karena hanya membatasinya untuk tidak bertemu dengan siapapun serta tidak boleh tinggal di tempat al-Watsiq menetap. Akibatnya, Hambal mengurung diri hingga ia meninggal dunia.
Namun pada perkembangan selanjutnya al-Watsiq pun menyesali segala tindakan kekerasan yang berkaitan dengan pemaksaan paham kemakhlukan Al-Qur’an, al-Watsiq pada akhir hayatnya berusaha menghapuskan al-Mihnah, karena hal itu merupakan suatu perbuatan yang tidak pernah dilaksanakan pada masa Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar dan Ali bin Abi Thalib.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa al-Mihnah berkembang pada masa khalifah-khalifah Abbasiyah, al-Ma’mun, al-Mu’tashim dan al-Watsiq, yang menggunakan tindakan pemeriksaan bahkan penyiksaan untuk menyebarkan paham tentang kemakhlukan Al-Qur’an.
Dalam riwayat dijelaskan bahwa pada masa pemerintahan al-Watsiq, para penguasa tidak lagi memberikan siksaan terhadap pihak-pihak yang menolak paham kemakhlukan al-Qur’an, bahkan al-Watsiq sendiri telah bertaubat sebelum ia meninggal dunia. Diakhir pemerintahan al-Watsiq, terdapat seorang Syekh bernama Abu Abdu al-Rahman Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu Ishak al-Azraniy, ketika dihadirkan di hadapan khalifah dalam keadaan terbelenggu karena al-Mihnah, dikatakannya bahwa al-Mihnah yang diperlakukan terhadap manusia bukan ajaran Nabi dan tidak pernah dipraktekkan oleh Rasulullah saw., Abu Bakar, Utsman dan Ali. Mengapa melakukan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan Nabi? Mendengar keterangan seperti itu, al-Watsiq terdiam. Dia bangkit dari tempat duduknya dan merenungkan kalimat yang diucapkan syekh tadi, lalu Syekh pun dimaafkan dan dibebaskan. Setelah kejadian itu tidak ada lagi orang yang mendapat siksaan, dan khalifah bertaubat sebelum ia meninggal dunia tahun 847 M.
Pada masa al-Mutawakkil, al-Mihnah tidak lagi diperlakukan, karena aliran Mu’tazilah telah dibatalkan sebagai mazhab negara di tahun 847 M. Dari sinilah berakhir paham al-Mihnah oleh kaum Mu’tazilah.
2.6 Kesalahan Dan Kekeliruan Yang Perbuat Oleh Alran Mu’tazilah
1. Kaum Mu’tazilah amat berlebih-lebihan dalam menghormati dan mengagungkan akal, sedang akal tersebut sering keliru dan salah. Penghormatan terhadap akal telah menyebabkan sebagaiaan dari mereka sampai berkata bahwa gerakan surga dan neraka akan terhenti, dan menyebabkan surga dan neraka itu beserta orang-orang yang di dalamnya menjadi diam dan tenang selama-lamanya. Pada saat diam itulah penduduk surga menikmati segala macam kenikmatan dan penduduk neraka menanggungkan segala macam’azab dan siksa.
Yang menyebabkan timbul pendapat semacam itu adalah bahwa akal atau ratio telah mengamanatkan kepada mereka, bahwa tiap-tiap yang ada awalnya tentu ada pula akhirnya. Oleh sebab surga dan neraka itu ada awalnya, pasti pula ada akhirnya dan sesudahnya.
2. Agama islam terkenal agama yang mudah dan gampang. Akan tetapi kaum Mu’tazilah telah menyebabkan aqidah islam yang mudah itu menjadi ruwet dan berbelit-belit, yaitu dengan memasukkan filsafat-filsafat dan pelajaran-pelajaran tentang ketuhanan (lahut) dalam alam, yang tidak dapat memperjelas ajaran-ajaran islam, bahkan membuat jadi kabur.
3. Kaum Mu’tazilaj menyelami lautan filsafat untuk mempertahankan islam, akan tetapi banyak dari mereka itu memakai senjata tersebut untuk menikam dirinya sendiri. Atau dengan perkataan lain : sebagaiaan dari mereka tenggelam dalam lautan filsafat itu; mereka kehilangan pedoman dan sesat jalan; samapai ada diantara mereka menganut paham re-inkarnasi, dan berpendapat bahwa Alloh bias berdusta dan menganiaya. Amat suci Tuhan dari hal yang demikian, sebab andai kata Dia berdusta dan menganiaya, tentulah Dia Tuhan pendusta dan penganiaya.
4. Ketika kaum Mu’tazilah membahas masalah kekacauan-kekacauan yang terjadi pada permulaan islam, maka kebanyakan mereka memperoleh untuk mencela para sahabat Nabi. Malah mereka telah mencelah dan menyerang para sahabat itu dengan serangan-serangan yang sengit, yang tidak selaras sedikit juga dengan riwayat perjuangan mereka yang gilang-gemilang dalam menyiarkan islam dan menyokong Rosululloh saw. Bahkan kadang-kadang serangan-serangan itu sampai membawa orang kepada keragu-raguan dan kefasikan 
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Aliran Mu’tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari pada persoalan-persoalan yang dibawa kaum Khawarij dan Murjia’ah. Dalam pembahasan, mereka memakai akal sehingga mereka mendapatkan nama “kaum rasionalis islam’. Pendiri aliran Mu’tazilah adalah Wasil Bin Atha’ Dan ‘Amar Bin ‘Ubaid di karenakan mereka menjauh dari kota Basrah, kemudian membentuk majlis ta’lim sendiri sebagai kelanjutan dari pendapatnya bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak mukmin lengkap juga tidak kafir lengkap melainkan berada di antara dua tempat tersebut (al manzilatu bainal manzilataini).
Ajaran utama aliran Mu’tazilah adalah :
a) Keesaan (tauhid)
b) Keadilan Tuhan (al ‘adlu)
c) Janji dan ancaman (al wa’du wal wa’id)
d) Diantara dua tempat (al manzilatu bainal manziltaini)
e) Memerintahkan kebaikan dan mel;arang keburukan (al ‘amru bil ma’ruf wa an nahyu ‘anil munkari)
Tokoh-tokoh aliran Mu’tazilah adalah :
1. Wasil Bin Atha’ (80-131 H/699-748 M)
2. Al- Allaf (135-226 H/752-840 M)
3. An-Nazzham (wafat 231 H/845 M)
4. Al-Jubba’ie (wafat 303 H/915 M)
5. Bisjr Bin Al-Mu’tamir (wafat 226 H/840 M)
6. Az-Zamaihsyari (467-538 H / 1075-1144 M)

Daftar Pustaka

Nasution, Harun, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisis Perbandingan, Jakarta : UI-Press
http://abdain.wordpress.com/2010/04/28/mutazilah-dan-pengaruhnnya-terhadap-dunia-islam/

Selengkapnya. >

Hikmah Puasa

Terdapat hikmah di sebalik syariat Allah, khususnya puasa. Ada rahsia, hikmah dan tujuan puasa itu yang
diketahui akal manusia. Namun ada juga yang tidak dapat dijangkau akal manusia. Berkenaan hikmah
puasa, terdapat tidak kurang 12 jenis hikmah iaitu:
1. Puasa menyempitkan aliran makanan dan darah. Aliran yang sama digunakan syaitan. Maka bisikan
syaitan menjadi lemah.
2. Puasa melemahkan nafsu, hasrat jahat dan keinginan berbuat maksiat. Ini membuatkan roh menjadi tidak
ternoda dan kembali suci.

3. Puasa mengingatkan pelakunya perihal kewujudan saudara-saudaranya yang kelaparan, memerlukan bantuan dan yang fakir serta miskin. Kesedaran ini menyebabkan orang yang berpuasa mahu mengasihi, menyayangi dan menolong mereka.
4. Puasa juga adalah pendidikan jiwa, penyucian hati, pengendalian pandangan dan menjaga anggota tubuh
daripada dosa.

5. Puasa juga adalah rahsia antara hamba dengan Tuhannya. Hal ini ditegaskan dalam hadis Qudsi. Allah
berkata, "Setiap amal anak Adam untuk dirinya kecuali puasa. Puasa untukKu dan Aku sendiri yang
membalasnya."

6. Puasa adalah alat penyatuan kaum muslimin. Mereka berpuasa pada waktu yang sama dan berbuka puasa pada waktu yang sama. Mereka merasa lapar bersama dengan penuh persaudaraan. Penyatuan membuatkan mereka diliputi rasa cinta dan setiakawan.

7. Puasa adalah penghapus kesalahan dan kejahatan. Muslim merekodkan Rasulullah berkata "Dari Jumaat
ke Jumaat yang lain, daripada umrah kepada umrah yang lain dan dari Ramadan ke Ramadan yang lain
adalah penghapus dosa. Ini selagi dosa itu tidak termasuk dosa besat."
8. Puasa menyihatkan badan kerana ia mengosongkan perut daripada semua bahan yang merosakkan. Ia
juga merehatkan pencernaan, membersihkan darah, menormalkan fungsi ginjal, hati dan jantung.

9. Apabila orang itu berpuasa, dirinya terasa kerdil di hadapan Allah, hatinya mudah tersentuh dan rasa
tamak menipis. Nafsunya terkawal sehingga dengan demikian doanya dikabulkan kerana dekat dengan
Allah.
10. Dalam puasa terdapat rahsia agung iaitu ketaatan menyembah Allah. Muslim patuh atas segala
perintahNya, tunduk kepada agamaNya, meninggalkan hasrat makan, minum dan bersetubuh hanya demi
mencari keredhaan Allah.

11. Puasa adalah kemenangan muslim mengalahkan hawa nafsunya. Ia kemenangan muslim ke atas dirinya
dan ia bukti kesabaran. Orang yang tidak berpuasa tanpa sebab yang dibenarkan, ia tidak mampu
mengendalikan dirinya dan tidak dapat mengalahkan hawa nafsunya.

12. Puasa adalah latihan luar biasa jiwa supaya ia berada dalam keadaan bersedia 100 peratus. Jiwa yang tersedia ini mampu menanggung beban hidup sehingga Ramadan juga digelar sekolah istimewa. Selain itu dengan puasa, kita bersedia dan agung seperti jihad, mendermakan harta di jalan Allah dan berkorban

Selengkapnya. >

Rahasia Sholat Tahajud

Ada sebuah rahasia penting yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Sebuah rahasia yang maha dahsyat bila anda rutin melaksanakan sholat sunah Tahajud. Sholat yang dilaksanakan sepertiga malam dengan penuh keheningan, karena di saat itu banyak orang yang tertidur lelap.

Pada saat itulah sebaiknya anda bangun dari tidur. Mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat sunah Tahajud. Boleh anda laksanakan 2 rakaat ditutup dengan witir 1 rakaat. Boleh juga 8 rakaat dan ditutup dengan witir 3 rakaat. Bila anda sanggup, boleh juga sampai 23 rakaat.

Namun, yang paling penting adalah konsistensi dalam pelaksanaannya. Lebih baik melaksanakan sholat tahajud dengan rakaat yang sedikit tapi rutin tiap malam, daripada banyak rakaatnya tapi tidak rutin. Anda perlu konsisten dan memiliki komitmen yang tinggi dalam diri.

Hal terpenting dari sholat tahajud adalah anda merenungi hidup ini, melakukan instropeksi di hari kemarin dan memohon ampunan kepada Allah dengan seraya beristighfar dengan penuh ke-khusyuk-an. Memohon diberikan kemudahan dalam melaksanakan aktivitas esok hari, dan yang lebih penting berdoa kepada Allah agar di lapangkan rezeki.

Saya menjadi teringat ketika hendak mau menikah di Bandung pada tahun 1998. Pada malam sebelum nikah, saya sempat bingung karena uang untuk transport penghulu dan juga tempat penginapan belum ada di kantong. Saya berdiskusi dengan almarhum ayah untuk mencarikan solusinya. Lalu saya katakan kesulitan saya itu kepada beliau. Ketika kesulitan itu saya sampaikan, ayah saya cuma tersenyum dan menyuruh saya untuk melaksanakan sholat tahajud.

Malamnya, saya sholat tahajud dengan penuh kekhusyukan agar besok dimudahkan dari segala urusan. Saya berserah diri kepada Allah seraya berdoa agar diberikan rezeki karena akan menikah besok lusa. Saya pun berdoa sambil menangis sesunggukan memohon ampun kepada-Nya. Segala ikhtiar sudah ditunaikan, sekarang saatnya saya berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Semoga Allah mengabulkan segala permintaan saya yang akan menikah esok lusa.

Besok paginya, setelah sholat subuh berjamaah, ada ketukan pagar dari luar rumah. Begitu saya tengok keluar, ada pak Yono, salah satu pengurus masjid Al Iman datang ke rumah kami.

Setelah pintu pagar dibuka, lalu saya persilahkan beliau masuk ke ruang tamu. Setelah beliau ada di ruang tamu, maka mengobrollah kami sebentar, lalu tiba-tiba saja diberinya saya amplop yang berisi uang. Jumlahnya pas banget dengan yang saya butuhkan. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, saya mengucap syukur kepada Allah. Ternyata di pagi hari itu, Allah memberikan rezekinya lewat pak Yono dan kawan-kawan pengurus masjid yang tidak bisa ikut hadir dalam pernikahan saya di kota Bandung.

Rahasia sholat tahajud mungkin sudah pernah anda dapatkan. Dia datang berbeda-beda caranya. Ada yang cepat, dan ada yang lambat. Tergantung dari ridho Allah, dan cara kita berdoa. Terkadang kita sering terlupa bahwa doa adalah permohonan dan permintaan hambaNya yang memasrahkan dirinya agar diampuni dosanya, diberikan kemudahan hidup di dunia dan akhirat kelak. Merendahkan diri dihadapan sang penguasa langit dan bumi.

Semoga Allah mengabulkan doa-doa hambaNya yang berserah diri pada saat-saat keheningan sepertiga malam dengan melaksanakan sholat sunah tahajud. Oleh karenanya, jangan lupa pula untuk selalu sadar diri bahwa akan ada hidup sesudah mati. Di dunia ini kita hanyalah seorang pengembara yang singgah sebentar, lalu pergi kembali.

Selengkapnya. >

Selasa, 12 Oktober 2010

Hadits Tentang Pecahnya Umat Islam

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.

Selengkapnya. >

Dalam Bahasa Lain

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Jadwal Sholat

Menurut anda bagaimana tampilan blog ini !!!!

ShoutMix


ShoutMix chat widget

Pengikut

Sholi-Udien | Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all