Dr. Stephen Hawking (Inggris) dan fisikawan AS, Leonard Mlodinow menulis buku berjudul "The Grand Design" yang lalu menuai kontroversial. Inti dari buku itu, Hawking -dalam acara talkshow "Larry King Live" di stasiun CNN- mengatakan, "Tuhan mungkin ada, tapi ilmu pengetahuan bisa menjelaskan alam semesta tanpa peran Sang Maha Pencipta".
Masih menurut Hawking, ilmu agama tidak diperlukan untuk menjelaskan penciptaan alam semesta. Dalil pengetahuanlah yang bisa menjelaskan terjadi jagat raya, tanpa campur tangan Tuhan. Demikian penjelasan Hawking saat peluncuran buku barunya itu, 9 September 2010 lalu.
Penemu "Teori-M" itu berargumen, bahwa, berdasarkan keberadaan gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta dengan sendirinya dari antah berantah. "Penciptaan yang spontan adalah alasan mengapa alam semesta dan kemanusiaan terjadi". Gravitasi dan teori kuantum menyebabkan jagat raya tercipta secara spontan.
"Ilmu pengetahuan kini kian mampu menjawab pertanyaan yang dulu masih dalam ranah agama. Perhitungan ilmiah kini telah komplit. Teologi tidak diperlukan lagi", kata ilmuan berusia 68 tahun itu. Penemu "Teori Lubang" tersebut menambahkan, "Jika alam semesta bisa tercipta dengan sendirinya, maka terdapat alam semesta-alam semesta lain yang juga tercipta".
Mencermati konklusi atau kesimpulan dari hasil riset Hawking tersebut, maka pasti umat beragama akan kebakaran jenggot, baik umat Islam maupun non-muslim yang menyakini bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, tidak tercipta dengan sendirinya. Berdebat dengan Hawking pun, paling-paling kebanyakan dari kita -terutama yang bukan ilmuan eksakta- hanya bisa menyampaikan dalil-dalil naqli yang bersumber dari kitab suci. Lalu, dari dalil-dalil itu kita temukan justifikasi untuk meng-counter balik ucapan Stephen Hawking dan rekannya, Leonard Mlodinow.
Lebih dari itu, melalui ilmu logika atau mantiq (baca: dalil aqli), kita pun mungkin saja menemukan hal-hal yang bisa melemahkan pendapatnya itu. Apalagi, kebanyakan dari kita memang handal dalam berdebat. Bisa saja dengan penuh emosi, kita balik bertanya, "Bila sains dan ilmu pengetahuan modern dapat membuat ciptaan, maka tolong buatlah seekor nyamuk saja!". Lalu, para sainstis akan menunjukkan robot buatan mereka yang bisa terbang dan bahkan menebarkan senjata biologi yang dampaknya lebih parah dari sengatan nyamuk demam berdarah.
Kemudian, kita pun akan balik berkata, "Robot buatanmu itu sama sekali tidak sama dengan nyamuk. Bentuk fisiknya besar, tak bernyawa, biaya pembuatannya pun mahal, dan sebagainya". Boleh jadi, setelah mendengar kata-kata, para ilmuan terdiam dan mengaku kalah. Tapi tidak dalam hal ranah pengembangan ilmu pengetahuan.
Tulisan ini bukan ingin menampilkan sisi perdebatan antara sains dan agama. Atau, tidak juga ingin mengunggulkan kemajuan temuan teknologi dan sains, serta ancamannya terhadap agama. Namun, hanya sebagai ekspresi untuk penyadaran diri, betapa para ilmuan Barat ternyata masih terus menggali informasi alam semesta. Dengan aktivitas riset tak kenal henti, dengan "jihad" yang tak kenal kata menyerah itu, mereka terus menghasilkan produk-produk modern yang mencengangkan penduduk bumi. Sementara kita lebih asyik bernostalgia dengan kemajuan teknologi muslim abad pertengahan dan mengenangnya sebagai khazanah intelektual belaka.
Maka, sudah seharusnya ilmu sains dan teknologi menjadi salah agenda umat Islam untuk terus dikembangkan. Bila perlu, ada fatwa tentang kewajiban memahami ilmu alam semesta, bukan hanya terbatas pada ilmu-ilmu sosial seperti pendidikan, psikologi, sastra dan sebagainya. Pengembangan pendidikan harus diperkuat dengan berbagai eksperimen untuk menghasilkan teknologi mutakhir yang membanggakan.
Jadi, pernyataan Stephen Hawkin dan Leonard Mlodinow yang kontroversial itu, sebaiknya kita jawab juga dengan temuan teknologi yang berpijak pada kebenaran agama. Tidak cukup dengan dalil-dalil belaka, tapi dengan teriakan takbir atau ledakan bom. Hal ini sama sekali bukan cara kaum beragama, tapi gaya-gaya koboi yang sudah kadaluarsa.
Memang benar, bila Nabi Muhammad saw bersabda, "man izdada ilman, wa lam yazdaad hudan, lam yazdad minallahi illa bu'dan". Artinya, siapa yang ipteknya bertambah, tapi tetap tidak memperoleh hidayah, maka sebenarnya ia hanya akan bertambah jauh dari Allah.
Itu artinya, sains dan teknologi umat Islam yang telah lama "tertidur" harus segera bangkit. Produk teknologi dan pengetahuan alam semesta dari kalangan kita, sebenarnya sedang ditunggu-tunggu. Yah, hanya dengan menampilkan hasil eksperimen dan berbagai riset modern di bidang ilmu eksakta yang berjiwa agamis saja yang akan memuaskan para ilmuan Barat yang selama ini terus mendeskreditkan umat Islam. Yakni, semua temuan dan teori yang akan menggiring Stephen Hawkin dan kawan-kawannya bermuara pada "Rabbana ma khalaqta hadza baatila". Sebuah pengakuan akan eksistensi Tuhan setelah mereka menyaksikan dalil nyata dan kebenaran secara ilmiah.
Di sinilah tantangan umat Islam di masa depan. Bila umat ini masih dinina bobokan oleh nostalgia, apalagi diributkan tentang dualisme antara duniawi dan ukhrawi, maka selain kita akan menjadi terbelakang dan terus ketinggalan, kita pun sama artinya diam tidak bergerak, tidak berdakwah dan tidak berkemauan menyadarkan mereka untuk mengimani eksistensi Allah. Sebab, kita sendiri belum berbuat apapun untuk alam semesta dan umat manusia.
Asmaul Husnah
Blog Archive
Wellcome
Selamat datang di Blog yang sederhana ini.
Selamat Menikmati
Selamat Menikmati
Diberdayakan oleh Blogger.
Tentang Hamba
- Udien
- Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia
- Ngganteng Ket Cilik
Kamis, 21 Oktober 2010
Sains dan Tuhan
Diposting oleh
Udien
di
Kamis, Oktober 21, 2010
Label: Sains
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar